Laman

Kamis, 03 Maret 2016

Surat dari Praha: Cinta vs Idealisme

Surat dari Praha: Cinta vs Idealisme


“Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki anak muda,” demikianlah ucap Tan Malaka, seorang yang seharusnya berhak menyandang gelar pahlawan nasional tetapi dicabut oleh Presiden Soeharto karena terang-terangan mengaku komunis. Demikianlah yang dirasakan Mahdi Jayasri atau yang akrab disapa Pak Jaya.

Ia harus menghabiskan masa mudanya dalam penderitaan hanya karena menolak Orde Baru. Beliau harus rela kehilangan kewarganegaraan, keluarga, dan satu-satunya perempuan yang dicintainya sepanjang hayat. Tidak hanya itu, dia bahkan harus menghabiskan usia senjanya dengan menanggung luka yang begitu dalam dan hanya ditemani seekor anjing bernama Bagong.

Tentu Pak Jaya bukanlah sosok nyata, meski faktanya puluhan hingga ratusan sosok eksil nyata adanya. Ya, mereka serupa dengan Pak Jaya, menolak Orde Baru hingga dituduh komunis, meski tidak semuanya komunis. Mereka harus kehilangan sesuatu yang berharga demi idealisme, sesuatu yang menurut Tan Malaka adalah sebuah kemewahan.

Dengan sangat apik Tyo Pakusadewo menghadirkan sosok Pak Jaya dalam film Surat dari Praha. Seseorang yang hanya dari tatapan matanya saja tersirat kepedihan serta beban hidup yang berat. Sang sutradara Angga Dwimas Sasongko dengan sangat ciamik mengejawantahkan narasi politik yang dibungkus dengan, well, apalagi selain drama percintaan.

Sedari awal, Surat dari Praha sudah menampilkan konflik antara Laras –diperankan oleh Julie Estelle- dengan sang Ibu Sulastri –diperankan oleh aktris senior Widyawati-. Konflik lalu bergulir hingga membawa Laras bertemu dengan Jaya, seseorang yang rajin mengirimi ibunya surat dari Praha, Republik Ceko.

Pertemuan dengan Jaya pula yang akhirnya menguak kehidupan rumah tangga Sulastri tidak harmonis dan berujung perceraian. Jalan serupa yang ditempuh oleh Laras kini. Jaya adalah mahasiswa ikatan dinas (mahid) yang dikirim Presiden Soekarno untuk belajar di negara-negara Eropa untuk kemudian membaktikan ilmu itu demi Ibu Pertiwi.

Ada beberapa scene yang menyentuh buat saya pribadi. Pertama, ketika Jaya dengan mata nanar memandang Kedutaan Besar Republik Indonesia. Tyo berhasil menghadirkan tatapan penuh kebencian dari seorang anak negeri yang dibuang begitu saja oleh Ibu Pertiwi.

Kedua, ketika dihadirkan sosok eksil betulan. Betapa dari sosok beliau-beliau ini dapat dilihat jejak kekejaman rezim Orde Baru. Mereka terpaksa hidup tanpa kewarganegaraan dan terasing hanya karena mengikuti idealisme dengan menolak rezim yang akhirnya berkuasa 32 tahun itu. Mereka berpikir rezim ini tidak akan bertahan lama. Belakangan, itu adalah pertaruhan yang salah.

Ketiga, ketika Jaya bermain piano dengan disaksikan Bagong, anjingnya yang setia menemani. Tak berapa lama, Jaya memeluk Bagong dengan mengucapkan, “Lastri seda (meninggal), gong...” sambil terisak. 

Ya, puluhan tahun merantau dan memegang teguh janji hanya untuk didatangi anak sang kekasih yang memilih menikah dengan laki-laki lain serta datang membawa kabar pujaan hati telah tiada. Siapa yang tidak akan merasa pilu dengan itu?

Secara keseluruhan, film ini menurut saya adalah film drama Indonesia terbaik yang pernah saya tonton. Film berlatar politik dibalut dengan cinta serta diiringi musik yang mampu menyayat hati. Sungguh, brilian sekali jalinan cerita, eksekusi, hingga pengambilan gambar di Praha.

Melalui Surat dari Praha Tyo Pakusadewo menunjukkan betapa beliau adalah aktor kelas Dewa yang dimiliki Indonesia. Julie Estelle di sisi lain berhasil mengimbangi akting brilian aktor gaek itu. Widyawati yang tampil hanya sekelabatan juga cukup baik memerankan sosok Sulastri. Jika ada yang mengganjal, itu adalah placing dari sponsor yang terkesan dipaksakan.


Jika harus diberi nilai, maka Surat dari Praha layak mendapat nilai 4,5 dari 5 bintang atau 9 dari 10. It’s worth every penny untuk ditonton di bioskop dan dikoleksi CD atau DVD-nya. 

“There’s always something left to love” – Gabriel Garcia Marquez 

Selasa, 01 Desember 2015

PERSONAL LIFE: Tempus Fugit

Tempus Fugit


Time flies.. 

Time does flies fast since my last post. Banyak hal yang terjadi dalam hidup dari terakhir ngepost di sini, Februari 2014. Setidaknya target untuk 2014 berhasil tercapai dengan baik. Lulus dan wisuda. Oke, seharusnya maksimal 2012 udah menyandang gelar sarjana. Apa daya, banyak hal personal yang menghalangi. Well, roll on to 2015. 

Seperti biasa, 2015 dimulai dengan bertambahnya umur. Itu salah satu keuntungan lahir di minggu pertama tahun baru. Kalau bikin resolusi selama setahun ke depan bisa berbarengan dengan target yang mau dicapai di umur baru. Hehehe..

Tepat sebelum masuk tahun baru, ada beberapa kekecewaan yang harus dirasa. Sepertinya Desember hampir selalu jadi bulan yang buruk (semoga tahun ini tidak). Mungkin Tuhan pengen gue tutup tahun dengan sebuah kekecewaan yang harus ditinggal untuk melangkah maju. 

First thing first, gue gagal tes CPNS di Desember. Kedua, patah hati (lagi). Untuk yang kedua kayaknya selalu terjadi di bulan Desember. Entahlah. Semacam ga bersahabat mungkin. A bitter pill to swallow. Selayaknya pil pahit. Tetap harus ditelan kalau memang ingin sembuh...

Masuklah ke 2015. Tepat di hari ulang tahun, gue bikin sebuah resolusi untuk hidup tanpa kekhawatiran. Just do your best and let God do the rests. Kalimat yang tertulis di sebuah buku dari seseorang di masa SMA. Seseorang yang terlewatkan and she is now married. 

Juga di saat yang sama gue set 2 target untuk umur ke 25. Pertama, punya kerjaan dan bangun karier perlahan-lahan. Kedua, coba kejar seseorang yang dari 2014 didoakan dan diusahakan. 

Well, target pertama tercapai. Di bidang kerjaan yang gue cita-citakan dari SMA. Wartawan. Bukan di desk yang gue pengen, tapi I know I'm heading to it. Meski harus jatuh bangun dan gagal di sebuah media dengan nama besar. Butuh waktu 9 bulan untuk sampai ke titik itu. Terima kasih Tuhan buat berkat satu ini. 

Target kedua, well, sejauh ini gitu-gitu aja. Entah mungkin karena dia sekarang bertambah sibuk atau mungkin ada seseorang lain di hatinya. Honestly, I had never imagined to catch a feeling on her since I met her in July 2011. Namun, semakin ke sini, perasaan itu tumbuh. Siapalah gue dibanding mantan-mantannya. Siapalah gue dibanding pria yang (mungkin) lagi ngejar dia sekarang. 

Tapi, semakin gue diremehin, semakin gue dalam posisi underdog, semakin gue seneng. Seperti saat gue bilang gue mau ngejar karier di bidang jurnalistik, banyak yang ngeremehin. Banyak juga yang bilang itu mimpi, well, look where I am right now. Butuh waktu 9 bulan tapi doa itu terwujud.

Untuk yang satu ini, kembali, gue berserah sepenuhnya sama Tuhan. He works in mysterious ways kata orang. I believe, I'm heading to her... 


Semoga ada waktu untuk nulis lagi di sini... 


- Stand up for what you believe in even if it means standing alone - 



Selasa, 04 Februari 2014

Life: How I Love Train



Hallo! Kali ini mau sedikit berbagi tentang kenapa gue begitu tergila-gila sama kereta api. Bahkan cita-cita gue dari kecil selain jadi dokter adalah jadi masinis (sekarang direvisi jadi kerja di rumah sakit atau KAI. Hahaha.. -red) Teman-teman yang kenal gue kadang sampai terheran-heran bahkan ada yang pernah nyeletuk, “Ini manusia satu kalau nikah sama kereta api itu legal mungkin dia nikah sama kereta api kali.” Hehehe..
But, I’m not alone. There are lots of people loving train like me or even more than me. Lazimnya, seorang pecinta kereta api menyebut dirinya railfans. Sejauh yang gue tahu ada 1 komunitas yang mewadahi para penggila rel ini, namanya “Komunitas Edan Sepur Indonesia”. Gue pun tahu komunitas ini secara tidak sengaja di sebuah pasar di daerah Purworejo (kampung halaman bokap) tahun 2010 via tulisan di jaket salah seorang anggotanya. Sejak itu gue coba browsing mengenai komunitas tersebut dan akhirnya memutuskan bergabung pertengahan Mei 2012 dan join di grup Facebook “Komunitas Edan Sepur Indonesia” dan follow akun Twitter @EdanSepurID. Jadi, kalau yang kenal gue dan heran dengan kegilaan gue pada kereta api, orang-orang di komunitas tersebut bisa dibilang lebih gila dari gue (yang masih newbie) tentang kereta api. Hehehe..
Awal perkenalan gue sama kereta api itu sejak kecil sewaktu masih tinggal di daerah Depok dan dekat dengan stasiun Depok Baru (sekitar umur 2 tahun). Gue, sewaktu kecil, selazimnya anak kecil lain (mungkin), sangat susah makan dan kalau susah makan nyokap biasanya bawa gue ke pinggir stasiun dan disuapi di sana. Sangat manjur, karena setiap ada kereta lewat, setiap sendok nasi mulus mendarat di perut karena sibuk melonjak kegirangan. Bahkan mungkin sampai sekarang gue masih melonjak kegirangan kalau melihat kereta lewat (agak kekanakan sih -red). Semenjak pindah ke Pamulang yang relatif cukup jauh dari stasiun atau rel kereta (sekitar umur 3 tahun), gue lebih sering melonjak kegirangan lihat berita di tv atau gambar di media cetak mengenai kereta api. Padahal Pamulang tidak jauh-jauh amat dari lintasan kereta api karena kira-kira 5 kilo meter dari rumah ada stasiun yaitu Stasiun Sudimara. Tapi gue baru tahu pas SMP. Maka, makin menjadi lah sampai sekarang ini.
Buat gue dan mungkin penggila kereta lainnya, naik kereta itu sangat mengasyikan. Sampai-sampai baru Desember 2011 kemarin lah perdana gue naik pesawat terbang untuk liburan karena selama ini lebih suka naik kereta. Antusiasme gue dari pertama kali menginjakkan kaki di stasiun sewaktu kecil sampai saat ini tidak pernah berubah sedikit pun. Sungguh. Ketika pertama kali pergi naik pesawat gue enggak ngerasa antusiasme yang sama dengan berkali-kali naik kereta sekalipun hanya di dalam kota. Maka, selama gue masih bepergian keliling pulau Jawa terutama pulang kampung, gue tetap memilih naik kereta ketimbang pesawat meskipun jauh lebih cepat dalam waktu tempuh. Mungkin nanti ketika saatnya ada urusan pekerjaan atau waktu libur yang singkat gue akan merindukan nikmatnya naik kereta karena pasti secara suka-paksa naik pesawat.
Argumen yang selalu dilontarkan teman-teman gue adalah, naik kereta itu kan lama. Bisa bosen di kereta. Sebagai contoh misalnya ketika kita ingin ke Yogyakarta. Naik kereta paling cepat 7 jam sampai di Yogyakarta dari Gambir, sedangkan naik pesawat dari Bandara Soekarno-Hatta hanya 45 menit. Bantahan gue adalah, pesawat suka delay, harga lebih mahal, resikonya tinggi, dan jauh lebih repot naik pesawat ketimbang kereta api. Ketika anda mau naik pesawat anda harus punya boarding pass dan ketika masuk di counter check-in bandara anda harus bayar sejumlah uang kan?. Tidak demikian halnya dengan naik kereta. Anda cukup hanya memegang tiket perjalanan dengan nama anda atau teman anda tercetak di tiket tersebut. Masuk stasiun pun tidak bayar. Cukup dengan menunjukkan tiket atau  struk ATM untuk menukar tiket di loket. Kalaupun harus bayar dulu ada tiket peron seharga Rp 2.500,00. Entah sekarang. See? Jauh lebih mudah naik kereta kan? Lagipula biasanya letak stasiun itu lebih strategis ketimbang bandara yang harus sedikit minggir dari pusat kota. Cukup menyulitkan. Buat gue, lebih enak pergi ke Gambir ketimbang ke Cengkareng sekalipun dari rumah gue di Pamulang lebih dekat ke Cengkareng daripada Gambir.
Bantahan lagi adalah, bosan lama-lama di kereta. Oke, tahukah anda sekarang di kereta ada saklar listrik? Nah, manfaatkanlah saklar listrik tersebut dengan maksimal. Bawalah laptop atau DVD portable atau alat hiburan lainnya kecuali konsol video game beserta televisinya tentu. Itu cukup untuk mengusir kebosanan anda. Hal lainnya adalah nikmati pemandangan selama perjalanan atau tidurlah selama perjalanan. Anda pun bisa sedikit melemaskan otot dengan berjalan-jalan di bordes dari kereta anda ke kereta di depan atau belakang atau bahkan ke kereta makan (lazim disebut restorasi). Banyak sebenarnya yang bisa dilakukan di dalam kereta. Jadi, kenapa tidak naik kereta? Hehehe..
 Selama daerah yang ingin gue kunjungi terjangkau dengan kereta, sejauh itu pula gue akan tetap naik kereta. Mungkin gue akan naik pesawat ketika daerah tersebut tidak terjangkau dengan kereta atau ketika diburu waktu. Naik bus adalah pilihan kesekian karena gue termasuk orang yang mudah buang air dan naik bus bukanlah pilihan yang bagus karena jarang ada bus yang menyediakan toilet. Oke, mungkin selama kuliah lebih sering PP Lb. Bulus – Jatinangor dengan bus karena lebih mudah dijangkau. Seandainya pun ada rute kereta api Gambir – Jatinangor atau ke Rancaekek, dengan senang hati gue akan naik kereta. 

Rabu, 20 November 2013

SPORT: Now or Never, Man United!


Rapatnya jarak poin antara peringkat 1-8 di Liga Primer Inggris musim ini mengisyaratkan satu hal: sekali saja kehilangan 3 poin, bersiaplah kehilangan 2-3 peringkat. Hingga pekan ke 11 ini jarak antara Arsenal di puncak klasemen sementara dengan Manchester City  di peringkat 8 adalah 6 poin (selengkapnya bisa dilihat di gambar). Hal sebaliknya terjadi bila merengkuh 3 poin penuh dan pesaing 8 besar lainnya hanya meraih hasil seri (1 poin) atau bahkan kalah, bersiaplah untuk naik 2-3 peringkat (Kecuali Liverpool yang hanya bisa naik 1 peringkat).

Pekan ke 12 ini, 6 dari 8 tim tersebut akan saling berhadapan. Arsenal akan menjamu Southampton, tim yang sejauh ini bisa dilabeli kuda hitam. Liverpool akan mendapat jamuan ‘hangat’ dari tetangganya Everton dalam tajuk Merseyside Derby di Goodison Park. Manchester City akan menyambut Tottenham dengan tangan terbuka layaknya pramugara/i di Etihad. Dua tim lain, Chelsea dan Manchester United, masing-masing akan bertandang ke West Ham United dan Cardiff City. Buat Chelsea dan Man United, ini adalah kesempatan besar untuk memperbaiki peringkat di klasemen dan memperpendek jarak dengan Arsenal serta Liverpool. Terkhusus buat Man United, pekan ke 12 ini bisa jadi krusial bagi United untuk (asumsikan United hanya mengincar zona Liga Champions musim ini) pertama kalinya merangsek masuk ke 4 besar (batas aman zona Liga Champions).
Mari kita andaikan Arsenal vs Southampton meraih hasil seri atau Southampton kalah, maka paling tidak United berhasil naik ke peringkat 4. Belum termasuk bila Chelsea terpeleset di kandang West Ham. Bila Chelsea juga terpeleset di Boleyn Ground (markas West Ham), maka United bisa naik ke peringkat 3. Menggeser Liverpool? Lupakan sejenak. Seandainya Liverpool kalah di Goodison Park, maka United hanya akan menyamai poin Liverpool (23 poin) dan kalah selisih gol. Kecuali pasukan David Moyes kerasukan setan dan berhasil mencetak 5 gol lebih tanpa balas di Cardiff. Mendekatkan selisih poin pada Liverpool lebih realistis untuk sekarang ini.
Menang atas Arsenal tepat sebelum jeda internasional akan memberi semangat baru untuk United merengkuh poin di tiap pekannya. Selayaknya tim medioker yang menang atas pemuncak klasemen pekan sebelumnya dan berharap masuk zona Liga Champions di akhir musim, United akan dengan sangat bahagia menyambut jadwal di pekan ke 12 ini.  Euforia di AON Training Complex sedang membumbung tinggi. Inilah kesempatan besar bagi United untuk paling tidak sekali lagi membuktikan mereka bukan medioker. Juga bagi ‘Sang Terpilih’ David Moyes bahwa 11 tahun dirinya memimpin Everton stabil di 10 besar dengan bujet minim serta 2 kali penghargaan LMA Manager of The Year bukanlah kebetulan belaka. 

Some days I awake with the most wonderful feeling we can have in this job: I just don't see how my team can lose - Sir Alexander Matthew Busby, CBE, KCSG.  

Selasa, 07 Mei 2013

SPORT: Pasangan Hidup Pembalap Formula 1




Sangat mudah akhir-akhir ini menemukan pasangan hidup dari pemain-pemain sepakbola. Alasannya jelas, sepakbola adalah olahraga terpopuler sejagat raya. Tidak ada rasanya negara yang tidak demam sepakbola termasuk Amerika Serikat yang lebih mengenal Bola Basket dan Baseball sebagai olahraga yang paling digandrungi. Lagipula siapa yang tidak ingin tahu informasi mengenai pemain idolanya, bahkan kalau bisa sampai dengan kehidupan pribadinya.
Bagaimana dengan Formula 1? Tidak terlalu banyak informasi mengenai pasangan hidup pembalap Formula 1. Mungkin kebanyakan orang beranggapan bahwa pembalap F1 setiap balapan saja sudah dikelilingi oleh wanita-wanita cantik (umbrella girl), pasti sangat mudah bagi mereka untuk mendapat pasangan hidup. Selayaknya atlet di cabang olahraga lain, tentu saja para pembalap jet darat ini amat mudah menarik perhatian para wanita cantik. Tidak heran ketika sebuah balapan berlangsung banyak wanita cantik bertebaran di sekitar garasi (lazim disebut paddock) tim-tim Formula 1. Siapa saja mereka?


1. Hanna Prater
Inilah wanita dibalik kesuksesan Sebastian Vettel menjadi juara dunia 3 kali berturut-turut. Kedua sejoli ini bertemu di SMA dan telah menjalin hubungan kasih sejak 2007. Sayang, Hanna jarang terlihat di paddock Formula 1 karena kabarnya Vettel sangat protektif terhadap sang kekasih dari incaran media. 

2. Jessica Michibata
Kesuksesan Jenson Button menjadi juara dunia Formula 1 2009 sejalan lurus dengan kesuksesan percintaannya menggandeng model blasteran Jepang-Argentina ini. Michibata terkenal sebagai brand ambassador sebuah merk jam tangan, merk peralatan olahraga terkenal asal AS, dan juga seorang fashion designer. Jessica Michibata hampir selalu ada di sisi sang pacar ketika balapan dan tentu saja kehadirannya membuat paddock McLaren menjadi terlihat lebih indah. 

3. Nicole Scherzinger
Paddock McLaren Mercedes sejak 2010 adalah garasi paling indah karena kehadiran Jessica Michibata dan Nicole Scherzinger. Menjalin hubungan sejak 2008 dengan Lewis Hamilton, Nicole cukup sering mendampingi sang pacar di lintasan balap. Tentu ketika jadwalnya sebagai seorang penyanyi dan entertainer tidak padat. Kepindahan Hamilton ke tim Mercedes AMG Formula 1 membuat garasi McLaren kehilangan salah satu pesonanya.

4. Jenni Dahlman

Perempuan ini adalah mantan Miss Scandinavia di tahun 2001 dan mantan istri dari Kimi Raikkonen (juara dunia 2007). Kedua pasangan yang menikah di tahun  2004 dikabarkan berpisah di awal tahun 2013 ini. Sampai kini The Iceman, julukan Kimi Raikkonen, belum menemukan lagi sosok yang bisa membuatnya mencair. Mungkin Kimi susah untuk move on. 

5. Dasha Kapustina
Model asal Rusia ini adalah kekasih baru dari pembalap Ferrari dan juara dunia 2005 dan 2006, Fernando Alonso. Alonso sebelumnya pernah menikah dengan Raquel del Rosario, seorang penyanyi asal Spanyol, negara asal Alonso. Sayang, pernikahan itu kandas. Semenjak pertengahan 2012 Alonso berhasil move on dan menjalin hubungan dengan Dasha. Tidak heran sejak pertengahan 2012 seiring dengan kebangkitan Ferrari, Alonso mampu bangkit dan bersaing dengan Vettel di klasemen balap hingga balapan pamungkas di Brazil. 


Dibalik pria hebat terdapat wanita yang hebat pula - Anonymous

Senin, 06 Mei 2013

BERBAGI PENGALAMAN: SIDANG TILANG



"Selamat pagi/siang/malam, bisa lihat surat-suratnya?" Siapa di antara anda sekalian yang langsung gugup mendengar kata-kata sakti barusan? Jujur, sebelum gue punya SIM, gue juga gugup dengar kata-kata barusan dan pilihan yang langsung terlintas di kepala adalah damai di tempat. Hehehe..
Sekitar 2 atau 3 minggu yang lalu, sepupu gue kena tilang gara-gara lampu motornya mati sebelah. Iya, mati sebelah. Biarpun cuma sebelah tetap saja melanggar hukum dan tentu saja sebagai penegak hukum, polisi berhak menilang. Sepupu gue sudah menawarkan opsi 'damai' tapi mungkin opsi damai tersebut kurang menarik selayaknya opsi minta balikkan kepada sang mantan (oke, weird) sehingga sang penegak hukum memberi surat tilang dan SIM sepupu gue diambil. Melihat tanggal sidang tilang, jelas sepupu gue berhalangan dan melimpahkan kuasa tersebut ke gue. Tanpa keberatan gue mengangguk setuju karena 2 hal: Pertama, gue pengen tahu sidang tilang itu kayak apa karena jujur gue belum pernah kena; Kedua dan ini yang paling penting, gue amat sangat punya waktu berlebih untuk itu. 
Maka, datanglah gue ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang selama gue SMA gue lewat sana hampir setiap hari (tebak SMA gue di mana) dan di mana hari sidang tilang adalah menyebalkan buat gue karena pasti macet gara-gara motor parkir di pinggir jalan dan calo. Ya, calo. Para calo itu menggoda gue dengan berbagai macam jurus dan sayangnya, iman gue terlalu terguh dan kuat untuk digoda (sisiran). Sebenarnya pertimbangan gue adalah, gue pengen mengalami sendiri seperti apa sidang tilang. Hehehe..
Masuklah gue ke pengadilan dan disuruh ke loket di sayap kiri pengadilan buat ambil nomor antrian yang ditukarkan dengan berkas surat tilang. Dapatlah nomor antrian. Gue kira gue akan masuk ruang pengadilan dan menghadapi pengadilan beneran di mana gue butuh pengacara dan ternyata tidak. Cukup menunggu nomor antrian dipanggil lalu bayar di loket dan selesai. Ada juga seperti contoh di artikel ini http://www.tempo.co/read/news/2012/11/03/083439461 dan ternyata gue mengalami hal yang berbeda. Jauh dari bayangan gue selama ini kalau sidang tilang itu bakal ribet, dll. Ternyata, jauh lebih simpel. Sebenarnya ada yang lebih simpel daripada ikut sidang tilang, yaitu minta slip biru seperti di bawah ini (abaikan nama pada contoh): 
Nah, konon katanya slip biru itu berguna untuk bayar denda lewat Bank yang ditunjuk baik melalui atm maupun teller tanpa harus ikut sidang tilang. Nah, kalau yang merah atau berwarna putih itu kita harus ikut sidang tilang semacam yang gue bilang tadi. Lebih simpel dapat slip biru tapi terkadang polisi enggak mau kasih slip ini entah alasannya apa.
Inti dari tulisan pengalaman ini adalah gue pengen kalian terbuka dengan fakta yang ada. Marilah kalau salah mengaku salah dan ikut sidang tilang atau minta slip biru lalu bayar sejumlah dengan yang tertera akibat kesalahan kita sendiri. Percayalah, uang denda kita akan masuk ke kas negara (itu juga kalau enggak dikemplang sih). Menyumbang sedikitlah untuk negara ini. Jangan pilih opsi damai karena itu akan menyuburkan praktek korupsi dan masuk ke kantong pribadi. Percuma kita suka nyinyir melihat oknum polisi yang korupsi tapi kita sendiri ikut berkontribusi di sana. Jangan lagi ada ketakutan untuk ikut sidang tilang atau bayar denda. Lagipula denda itu baik untuk diri kita sendiri sebagai peringatan. Lebih baik bayar denda lalu sadar kesalahan sendiri daripada bayar biaya rumah sakit akibat kesalahan kita berlalu lintas atau yang lebih parah, bertemu Sang Pencipta. 


Don't be afraid, it's all only in your mind - anonymous

Minggu, 05 Mei 2013

RESTART



Hello. It's been a very long time since my last post. Well, banyak yang sudah berubah. Baik itu di diri gue sendiri juga mungkin kalian. Entah itu perubahan ke arah lebih baik atau malah mungkin lebih buruk.
Sebagaimana dan selayaknya sebuah video game, selalu ada dan tersedia pilihan restart atau bahkan reset, dalam hidup yang nyata pun ada yang namanya restart (Untuk reset kayaknya hampir mustahil dalam kehidupan nyata), maka dari itu dari postingan inilah gue bakal restart. Apa aja yang gue restart? Yang terutama yah tentu blog ini. Gue sedikit ubah desainnya biar sedikit refresh.
Banyak gamers yang bilang kalau restart ketika main game itu adalah sebuah tindakan yang hampir setara dengan kecurangan. Kenapa? Karena you only have one shot and you have to make sure that will be your best shot istilahnya. Hidup juga begitu. Kita cuma punya satu kali kesempatan hidup dan sudah selayaknya lah kita buat sesuatu yang terbaik di setiap langkah. Well, nobody's perfect. Kita tidak sempurna, maka dari itu kita sering buat kesalahan dan selayaknya anda ketika sedang bermain game, maka dijamin anda akan mengambil pilihan restart. Selayaknya sebuah pilihan maka itu akan mengandung resiko. Ketika kita tidak cukup berani mengambil sebuah resiko untuk langkah yang lebih baik, kita tidak akan pernah maju. Maka, tidak usah pedulikan kata orang, ambil resiko itu dan restart. That's what I'm trying to do with my life.
Biarlah orang berkata apa karena memang pada dasarnya tidak ada orang yang betul-betul senang dengan apa yang kita perbuat dan selalu ada celah bagi mereka untuk menjatuhkan kita. Terkecuali keluarga kita sendiri dan mungkin teman-teman terbaik anda. Mari kita beranikan diri ambil pilihan untuk restart bila memang dirasa perlu dan membawa perubahan lebih baik untuk hidup kita ke depan. Ada sebuah lagu yang akhir-akhir ini memberi saya semangat baru. Selain liriknya, videonya juga memberi saya sebuah semangat. Sebuah lagu dari The Script featuring Will.I.Am berjudul Hall Of Fame. Enjoy the song and see you in another post! 




Only those who will risk going too far can possibly find out how far one can go. – T. S. Eliot