Surat dari Praha: Cinta vs Idealisme
“Idealisme adalah kemewahan
terakhir yang dimiliki anak muda,” demikianlah ucap Tan Malaka, seorang yang
seharusnya berhak menyandang gelar pahlawan nasional tetapi dicabut oleh
Presiden Soeharto karena terang-terangan mengaku komunis. Demikianlah yang
dirasakan Mahdi Jayasri atau yang akrab disapa Pak Jaya.
Ia harus menghabiskan masa
mudanya dalam penderitaan hanya karena menolak Orde Baru. Beliau harus rela
kehilangan kewarganegaraan, keluarga, dan satu-satunya perempuan yang
dicintainya sepanjang hayat. Tidak hanya itu, dia bahkan harus menghabiskan
usia senjanya dengan menanggung luka yang begitu dalam dan hanya ditemani
seekor anjing bernama Bagong.
Tentu Pak Jaya bukanlah sosok
nyata, meski faktanya puluhan hingga ratusan sosok eksil nyata adanya. Ya,
mereka serupa dengan Pak Jaya, menolak Orde Baru hingga dituduh komunis, meski
tidak semuanya komunis. Mereka harus kehilangan sesuatu yang berharga demi
idealisme, sesuatu yang menurut Tan Malaka adalah sebuah kemewahan.
Dengan sangat apik Tyo Pakusadewo
menghadirkan sosok Pak Jaya dalam film Surat dari Praha. Seseorang yang hanya
dari tatapan matanya saja tersirat kepedihan serta beban hidup yang berat. Sang
sutradara Angga Dwimas Sasongko dengan sangat ciamik mengejawantahkan narasi
politik yang dibungkus dengan, well,
apalagi selain drama percintaan.
Sedari awal, Surat dari Praha
sudah menampilkan konflik antara Laras –diperankan oleh Julie Estelle- dengan
sang Ibu Sulastri –diperankan oleh aktris senior Widyawati-. Konflik lalu
bergulir hingga membawa Laras bertemu dengan Jaya, seseorang yang rajin
mengirimi ibunya surat dari Praha, Republik Ceko.
Pertemuan dengan Jaya pula yang
akhirnya menguak kehidupan rumah tangga Sulastri tidak harmonis dan berujung
perceraian. Jalan serupa yang ditempuh oleh Laras kini. Jaya adalah mahasiswa ikatan dinas (mahid) yang dikirim Presiden Soekarno untuk belajar di negara-negara Eropa untuk kemudian membaktikan ilmu itu demi Ibu Pertiwi.
Ada beberapa scene yang menyentuh buat saya pribadi. Pertama, ketika Jaya dengan
mata nanar memandang Kedutaan Besar Republik Indonesia. Tyo berhasil
menghadirkan tatapan penuh kebencian dari seorang anak negeri yang dibuang
begitu saja oleh Ibu Pertiwi.
Kedua, ketika dihadirkan sosok
eksil betulan. Betapa dari sosok beliau-beliau ini dapat dilihat jejak
kekejaman rezim Orde Baru. Mereka terpaksa hidup tanpa kewarganegaraan dan
terasing hanya karena mengikuti idealisme dengan menolak rezim yang akhirnya
berkuasa 32 tahun itu. Mereka berpikir rezim ini tidak akan bertahan lama. Belakangan,
itu adalah pertaruhan yang salah.
Ketiga, ketika Jaya bermain piano
dengan disaksikan Bagong, anjingnya yang setia menemani. Tak berapa lama, Jaya
memeluk Bagong dengan mengucapkan, “Lastri seda
(meninggal), gong...” sambil terisak.
Ya, puluhan tahun merantau dan memegang
teguh janji hanya untuk didatangi anak sang kekasih yang memilih menikah dengan
laki-laki lain serta datang membawa kabar pujaan hati telah tiada. Siapa yang
tidak akan merasa pilu dengan itu?
Secara keseluruhan, film ini
menurut saya adalah film drama Indonesia terbaik yang pernah saya tonton. Film
berlatar politik dibalut dengan cinta serta diiringi musik yang mampu menyayat
hati. Sungguh, brilian sekali jalinan cerita, eksekusi, hingga pengambilan
gambar di Praha.
Melalui Surat dari Praha Tyo
Pakusadewo menunjukkan betapa beliau adalah aktor kelas Dewa yang dimiliki
Indonesia. Julie Estelle di sisi lain berhasil mengimbangi akting brilian aktor
gaek itu. Widyawati yang tampil hanya sekelabatan juga cukup baik memerankan
sosok Sulastri. Jika ada yang mengganjal, itu adalah placing dari sponsor yang terkesan dipaksakan.
Jika harus diberi nilai, maka
Surat dari Praha layak mendapat nilai 4,5 dari 5 bintang atau 9 dari 10. It’s worth every penny untuk ditonton di
bioskop dan dikoleksi CD atau DVD-nya.
“There’s always something left to
love” – Gabriel Garcia Marquez








