Laman

Kamis, 03 Maret 2016

Surat dari Praha: Cinta vs Idealisme

Surat dari Praha: Cinta vs Idealisme


“Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki anak muda,” demikianlah ucap Tan Malaka, seorang yang seharusnya berhak menyandang gelar pahlawan nasional tetapi dicabut oleh Presiden Soeharto karena terang-terangan mengaku komunis. Demikianlah yang dirasakan Mahdi Jayasri atau yang akrab disapa Pak Jaya.

Ia harus menghabiskan masa mudanya dalam penderitaan hanya karena menolak Orde Baru. Beliau harus rela kehilangan kewarganegaraan, keluarga, dan satu-satunya perempuan yang dicintainya sepanjang hayat. Tidak hanya itu, dia bahkan harus menghabiskan usia senjanya dengan menanggung luka yang begitu dalam dan hanya ditemani seekor anjing bernama Bagong.

Tentu Pak Jaya bukanlah sosok nyata, meski faktanya puluhan hingga ratusan sosok eksil nyata adanya. Ya, mereka serupa dengan Pak Jaya, menolak Orde Baru hingga dituduh komunis, meski tidak semuanya komunis. Mereka harus kehilangan sesuatu yang berharga demi idealisme, sesuatu yang menurut Tan Malaka adalah sebuah kemewahan.

Dengan sangat apik Tyo Pakusadewo menghadirkan sosok Pak Jaya dalam film Surat dari Praha. Seseorang yang hanya dari tatapan matanya saja tersirat kepedihan serta beban hidup yang berat. Sang sutradara Angga Dwimas Sasongko dengan sangat ciamik mengejawantahkan narasi politik yang dibungkus dengan, well, apalagi selain drama percintaan.

Sedari awal, Surat dari Praha sudah menampilkan konflik antara Laras –diperankan oleh Julie Estelle- dengan sang Ibu Sulastri –diperankan oleh aktris senior Widyawati-. Konflik lalu bergulir hingga membawa Laras bertemu dengan Jaya, seseorang yang rajin mengirimi ibunya surat dari Praha, Republik Ceko.

Pertemuan dengan Jaya pula yang akhirnya menguak kehidupan rumah tangga Sulastri tidak harmonis dan berujung perceraian. Jalan serupa yang ditempuh oleh Laras kini. Jaya adalah mahasiswa ikatan dinas (mahid) yang dikirim Presiden Soekarno untuk belajar di negara-negara Eropa untuk kemudian membaktikan ilmu itu demi Ibu Pertiwi.

Ada beberapa scene yang menyentuh buat saya pribadi. Pertama, ketika Jaya dengan mata nanar memandang Kedutaan Besar Republik Indonesia. Tyo berhasil menghadirkan tatapan penuh kebencian dari seorang anak negeri yang dibuang begitu saja oleh Ibu Pertiwi.

Kedua, ketika dihadirkan sosok eksil betulan. Betapa dari sosok beliau-beliau ini dapat dilihat jejak kekejaman rezim Orde Baru. Mereka terpaksa hidup tanpa kewarganegaraan dan terasing hanya karena mengikuti idealisme dengan menolak rezim yang akhirnya berkuasa 32 tahun itu. Mereka berpikir rezim ini tidak akan bertahan lama. Belakangan, itu adalah pertaruhan yang salah.

Ketiga, ketika Jaya bermain piano dengan disaksikan Bagong, anjingnya yang setia menemani. Tak berapa lama, Jaya memeluk Bagong dengan mengucapkan, “Lastri seda (meninggal), gong...” sambil terisak. 

Ya, puluhan tahun merantau dan memegang teguh janji hanya untuk didatangi anak sang kekasih yang memilih menikah dengan laki-laki lain serta datang membawa kabar pujaan hati telah tiada. Siapa yang tidak akan merasa pilu dengan itu?

Secara keseluruhan, film ini menurut saya adalah film drama Indonesia terbaik yang pernah saya tonton. Film berlatar politik dibalut dengan cinta serta diiringi musik yang mampu menyayat hati. Sungguh, brilian sekali jalinan cerita, eksekusi, hingga pengambilan gambar di Praha.

Melalui Surat dari Praha Tyo Pakusadewo menunjukkan betapa beliau adalah aktor kelas Dewa yang dimiliki Indonesia. Julie Estelle di sisi lain berhasil mengimbangi akting brilian aktor gaek itu. Widyawati yang tampil hanya sekelabatan juga cukup baik memerankan sosok Sulastri. Jika ada yang mengganjal, itu adalah placing dari sponsor yang terkesan dipaksakan.


Jika harus diberi nilai, maka Surat dari Praha layak mendapat nilai 4,5 dari 5 bintang atau 9 dari 10. It’s worth every penny untuk ditonton di bioskop dan dikoleksi CD atau DVD-nya. 

“There’s always something left to love” – Gabriel Garcia Marquez 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar