Hallo! Kali ini mau sedikit berbagi tentang kenapa gue begitu
tergila-gila sama kereta api. Bahkan cita-cita gue dari kecil selain jadi dokter adalah jadi masinis (sekarang direvisi jadi kerja di rumah sakit atau KAI. Hahaha.. -red) Teman-teman yang kenal gue kadang sampai
terheran-heran bahkan ada yang pernah nyeletuk, “Ini manusia satu kalau nikah
sama kereta api itu legal mungkin dia nikah sama kereta api kali.” Hehehe..
But, I’m not alone. There are lots of people
loving train like me or even more than me. Lazimnya, seorang pecinta kereta
api menyebut dirinya railfans. Sejauh yang gue tahu ada 1 komunitas yang
mewadahi para penggila rel ini, namanya “Komunitas Edan Sepur Indonesia”. Gue
pun tahu komunitas ini secara tidak sengaja di sebuah pasar di daerah Purworejo
(kampung halaman bokap) tahun 2010 via tulisan di jaket salah seorang
anggotanya. Sejak itu gue coba browsing
mengenai komunitas tersebut dan akhirnya memutuskan bergabung pertengahan Mei
2012 dan join di grup Facebook
“Komunitas Edan Sepur Indonesia” dan follow akun Twitter @EdanSepurID. Jadi,
kalau yang kenal gue dan heran dengan kegilaan gue pada kereta api, orang-orang
di komunitas tersebut bisa dibilang lebih gila dari gue (yang masih newbie) tentang kereta api. Hehehe..
Awal perkenalan gue
sama kereta api itu sejak kecil sewaktu masih tinggal di daerah Depok dan dekat
dengan stasiun Depok Baru (sekitar umur 2 tahun). Gue, sewaktu kecil,
selazimnya anak kecil lain (mungkin), sangat susah makan dan kalau susah makan nyokap
biasanya bawa gue ke pinggir stasiun dan disuapi di sana. Sangat manjur, karena
setiap ada kereta lewat, setiap sendok nasi mulus mendarat di perut karena sibuk
melonjak kegirangan. Bahkan mungkin sampai sekarang gue masih melonjak
kegirangan kalau melihat kereta lewat (agak kekanakan sih -red). Semenjak
pindah ke Pamulang yang relatif cukup jauh dari stasiun atau rel kereta
(sekitar umur 3 tahun), gue lebih sering melonjak kegirangan lihat berita di tv
atau gambar di media cetak mengenai kereta api. Padahal Pamulang tidak
jauh-jauh amat dari lintasan kereta api karena kira-kira 5 kilo meter dari
rumah ada stasiun yaitu Stasiun Sudimara. Tapi gue baru tahu pas SMP. Maka,
makin menjadi lah sampai sekarang ini.
Buat gue dan
mungkin penggila kereta lainnya, naik kereta itu sangat mengasyikan.
Sampai-sampai baru Desember 2011 kemarin lah perdana gue naik pesawat terbang
untuk liburan karena selama ini lebih suka naik kereta. Antusiasme gue dari
pertama kali menginjakkan kaki di stasiun sewaktu kecil sampai saat ini tidak
pernah berubah sedikit pun. Sungguh. Ketika pertama kali pergi naik pesawat gue
enggak ngerasa antusiasme yang sama dengan berkali-kali naik kereta sekalipun
hanya di dalam kota. Maka, selama gue masih bepergian keliling pulau Jawa
terutama pulang kampung, gue tetap memilih naik kereta ketimbang pesawat
meskipun jauh lebih cepat dalam waktu tempuh. Mungkin nanti ketika saatnya ada
urusan pekerjaan atau waktu libur yang singkat gue akan merindukan nikmatnya
naik kereta karena pasti secara suka-paksa naik pesawat.
Argumen yang
selalu dilontarkan teman-teman gue adalah, naik kereta itu kan lama. Bisa bosen
di kereta. Sebagai contoh misalnya ketika kita ingin ke Yogyakarta. Naik kereta
paling cepat 7 jam sampai di Yogyakarta dari Gambir, sedangkan naik pesawat
dari Bandara Soekarno-Hatta hanya 45 menit. Bantahan gue adalah, pesawat suka
delay, harga lebih mahal, resikonya tinggi, dan jauh lebih repot naik pesawat
ketimbang kereta api. Ketika anda mau naik pesawat anda harus punya boarding pass dan ketika masuk di counter check-in bandara anda harus bayar sejumlah uang kan?. Tidak
demikian halnya dengan naik kereta. Anda cukup hanya memegang tiket perjalanan
dengan nama anda atau teman anda tercetak di tiket tersebut. Masuk stasiun pun
tidak bayar. Cukup dengan menunjukkan tiket atau struk ATM untuk menukar tiket di loket.
Kalaupun harus bayar dulu ada tiket peron seharga Rp 2.500,00. Entah sekarang. See? Jauh lebih mudah naik kereta kan?
Lagipula biasanya letak stasiun itu lebih strategis ketimbang bandara yang
harus sedikit minggir dari pusat kota. Cukup menyulitkan. Buat gue, lebih enak
pergi ke Gambir ketimbang ke Cengkareng sekalipun dari rumah gue di Pamulang
lebih dekat ke Cengkareng daripada Gambir.
Bantahan lagi
adalah, bosan lama-lama di kereta. Oke, tahukah anda sekarang di kereta ada
saklar listrik? Nah, manfaatkanlah saklar listrik tersebut dengan maksimal. Bawalah
laptop atau DVD portable atau alat
hiburan lainnya kecuali konsol video game beserta televisinya tentu. Itu cukup
untuk mengusir kebosanan anda. Hal lainnya adalah nikmati pemandangan selama
perjalanan atau tidurlah selama perjalanan. Anda pun bisa sedikit melemaskan
otot dengan berjalan-jalan di bordes dari kereta anda ke kereta di depan atau
belakang atau bahkan ke kereta makan (lazim disebut restorasi). Banyak
sebenarnya yang bisa dilakukan di dalam kereta. Jadi, kenapa tidak naik kereta?
Hehehe..
Selama daerah
yang ingin gue kunjungi terjangkau dengan kereta, sejauh itu pula gue akan
tetap naik kereta. Mungkin gue akan naik pesawat ketika daerah tersebut tidak
terjangkau dengan kereta atau ketika diburu waktu. Naik bus adalah pilihan
kesekian karena gue termasuk orang yang mudah buang air dan naik bus bukanlah
pilihan yang bagus karena jarang ada bus yang menyediakan toilet. Oke, mungkin
selama kuliah lebih sering PP Lb. Bulus – Jatinangor dengan bus karena lebih
mudah dijangkau. Seandainya pun ada rute kereta api Gambir – Jatinangor atau ke
Rancaekek, dengan senang hati gue akan naik kereta.