Laman

Selasa, 04 Februari 2014

Life: How I Love Train



Hallo! Kali ini mau sedikit berbagi tentang kenapa gue begitu tergila-gila sama kereta api. Bahkan cita-cita gue dari kecil selain jadi dokter adalah jadi masinis (sekarang direvisi jadi kerja di rumah sakit atau KAI. Hahaha.. -red) Teman-teman yang kenal gue kadang sampai terheran-heran bahkan ada yang pernah nyeletuk, “Ini manusia satu kalau nikah sama kereta api itu legal mungkin dia nikah sama kereta api kali.” Hehehe..
But, I’m not alone. There are lots of people loving train like me or even more than me. Lazimnya, seorang pecinta kereta api menyebut dirinya railfans. Sejauh yang gue tahu ada 1 komunitas yang mewadahi para penggila rel ini, namanya “Komunitas Edan Sepur Indonesia”. Gue pun tahu komunitas ini secara tidak sengaja di sebuah pasar di daerah Purworejo (kampung halaman bokap) tahun 2010 via tulisan di jaket salah seorang anggotanya. Sejak itu gue coba browsing mengenai komunitas tersebut dan akhirnya memutuskan bergabung pertengahan Mei 2012 dan join di grup Facebook “Komunitas Edan Sepur Indonesia” dan follow akun Twitter @EdanSepurID. Jadi, kalau yang kenal gue dan heran dengan kegilaan gue pada kereta api, orang-orang di komunitas tersebut bisa dibilang lebih gila dari gue (yang masih newbie) tentang kereta api. Hehehe..
Awal perkenalan gue sama kereta api itu sejak kecil sewaktu masih tinggal di daerah Depok dan dekat dengan stasiun Depok Baru (sekitar umur 2 tahun). Gue, sewaktu kecil, selazimnya anak kecil lain (mungkin), sangat susah makan dan kalau susah makan nyokap biasanya bawa gue ke pinggir stasiun dan disuapi di sana. Sangat manjur, karena setiap ada kereta lewat, setiap sendok nasi mulus mendarat di perut karena sibuk melonjak kegirangan. Bahkan mungkin sampai sekarang gue masih melonjak kegirangan kalau melihat kereta lewat (agak kekanakan sih -red). Semenjak pindah ke Pamulang yang relatif cukup jauh dari stasiun atau rel kereta (sekitar umur 3 tahun), gue lebih sering melonjak kegirangan lihat berita di tv atau gambar di media cetak mengenai kereta api. Padahal Pamulang tidak jauh-jauh amat dari lintasan kereta api karena kira-kira 5 kilo meter dari rumah ada stasiun yaitu Stasiun Sudimara. Tapi gue baru tahu pas SMP. Maka, makin menjadi lah sampai sekarang ini.
Buat gue dan mungkin penggila kereta lainnya, naik kereta itu sangat mengasyikan. Sampai-sampai baru Desember 2011 kemarin lah perdana gue naik pesawat terbang untuk liburan karena selama ini lebih suka naik kereta. Antusiasme gue dari pertama kali menginjakkan kaki di stasiun sewaktu kecil sampai saat ini tidak pernah berubah sedikit pun. Sungguh. Ketika pertama kali pergi naik pesawat gue enggak ngerasa antusiasme yang sama dengan berkali-kali naik kereta sekalipun hanya di dalam kota. Maka, selama gue masih bepergian keliling pulau Jawa terutama pulang kampung, gue tetap memilih naik kereta ketimbang pesawat meskipun jauh lebih cepat dalam waktu tempuh. Mungkin nanti ketika saatnya ada urusan pekerjaan atau waktu libur yang singkat gue akan merindukan nikmatnya naik kereta karena pasti secara suka-paksa naik pesawat.
Argumen yang selalu dilontarkan teman-teman gue adalah, naik kereta itu kan lama. Bisa bosen di kereta. Sebagai contoh misalnya ketika kita ingin ke Yogyakarta. Naik kereta paling cepat 7 jam sampai di Yogyakarta dari Gambir, sedangkan naik pesawat dari Bandara Soekarno-Hatta hanya 45 menit. Bantahan gue adalah, pesawat suka delay, harga lebih mahal, resikonya tinggi, dan jauh lebih repot naik pesawat ketimbang kereta api. Ketika anda mau naik pesawat anda harus punya boarding pass dan ketika masuk di counter check-in bandara anda harus bayar sejumlah uang kan?. Tidak demikian halnya dengan naik kereta. Anda cukup hanya memegang tiket perjalanan dengan nama anda atau teman anda tercetak di tiket tersebut. Masuk stasiun pun tidak bayar. Cukup dengan menunjukkan tiket atau  struk ATM untuk menukar tiket di loket. Kalaupun harus bayar dulu ada tiket peron seharga Rp 2.500,00. Entah sekarang. See? Jauh lebih mudah naik kereta kan? Lagipula biasanya letak stasiun itu lebih strategis ketimbang bandara yang harus sedikit minggir dari pusat kota. Cukup menyulitkan. Buat gue, lebih enak pergi ke Gambir ketimbang ke Cengkareng sekalipun dari rumah gue di Pamulang lebih dekat ke Cengkareng daripada Gambir.
Bantahan lagi adalah, bosan lama-lama di kereta. Oke, tahukah anda sekarang di kereta ada saklar listrik? Nah, manfaatkanlah saklar listrik tersebut dengan maksimal. Bawalah laptop atau DVD portable atau alat hiburan lainnya kecuali konsol video game beserta televisinya tentu. Itu cukup untuk mengusir kebosanan anda. Hal lainnya adalah nikmati pemandangan selama perjalanan atau tidurlah selama perjalanan. Anda pun bisa sedikit melemaskan otot dengan berjalan-jalan di bordes dari kereta anda ke kereta di depan atau belakang atau bahkan ke kereta makan (lazim disebut restorasi). Banyak sebenarnya yang bisa dilakukan di dalam kereta. Jadi, kenapa tidak naik kereta? Hehehe..
 Selama daerah yang ingin gue kunjungi terjangkau dengan kereta, sejauh itu pula gue akan tetap naik kereta. Mungkin gue akan naik pesawat ketika daerah tersebut tidak terjangkau dengan kereta atau ketika diburu waktu. Naik bus adalah pilihan kesekian karena gue termasuk orang yang mudah buang air dan naik bus bukanlah pilihan yang bagus karena jarang ada bus yang menyediakan toilet. Oke, mungkin selama kuliah lebih sering PP Lb. Bulus – Jatinangor dengan bus karena lebih mudah dijangkau. Seandainya pun ada rute kereta api Gambir – Jatinangor atau ke Rancaekek, dengan senang hati gue akan naik kereta.